Notification

×

Indeks Berita

Tag Terpopuler

✕ Tutup Iklan

Ekonomi Sumut Tumbuh 4,98 Persen, Ditopang Konsumsi dan Event Internasional

10 Juni 2026 | Rabu, Juni 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-09T23:37:36Z
Badan Pusat Statistik saat Konferensi Pers di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Selasa (9/6/2026).



Medan, detik86news.com – Ekonomi Sumatera Utara (Sumut) tumbuh 4,98 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan I 2026. Capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Asim Saputra, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan kemampuan ekonomi Sumut dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal yang memengaruhi perdagangan dan investasi global.

“Ini menunjukkan ekonomi Sumut masih cukup resilien di tengah situasi global yang tidak menentu, termasuk dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah,” ujar Asim pada konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Selasa (9/6/2026).

Menurut Asim, struktur ekonomi Sumut yang ditopang sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas pertumbuhan. Selain itu, pasar ekspor utama Sumut masih didominasi Amerika Serikat dan Tiongkok, terutama untuk komoditas lemak dan minyak nabati.

Ia menjelaskan, meski konflik di Timur Tengah memberi tekanan terhadap perekonomian global, Sumut masih memperoleh keuntungan dari meningkatnya harga crude palm oil (CPO) di pasar internasional. Kondisi tersebut turut diperkuat oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang meningkatkan daya saing produk ekspor.

"Peningkatan harga CPO di pasar global memberikan dampak positif bagi pelaku usaha ekspor. Karena itu, pertumbuhan ekonomi Sumut masih dapat terjaga dengan baik,” katanya.

Asim menambahkan, lebih dari 51 persen pertumbuhan ekonomi Sumut berasal dari konsumsi rumah tangga. Tingginya kontribusi konsumsi masyarakat menunjukkan daya beli yang masih relatif kuat di tengah dinamika ekonomi nasional maupun global.

Karena itu, masyarakat diharapkan terus mendukung produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) guna memperkuat perputaran ekonomi di daerah.

Selain ditopang konsumsi dan ekspor, geliat ekonomi Sumut juga terlihat dari penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala nasional dan internasional sepanjang tahun 2026. Sejumlah agenda yang digelar antara lain Piala AFF U-19 2026, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Trail of The King by UTM 2026, Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), serta berbagai kegiatan lainnya.

“Kehadiran peserta, wisatawan, dan tamu dari berbagai daerah maupun luar negeri akan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari sektor perhotelan, transportasi, kuliner hingga usaha mikro,” ujar Asim.

Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, mengatakan inflasi Sumut pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,35 persen (yoy), meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada pada level 2,92 persen.

Komoditas utama penyumbang inflasi meliputi emas perhiasan sebesar 0,57 persen, tomat 0,29 persen, beras 0,24 persen, cabai merah 0,18 persen, dan ikan dencis 0,16 persen.

"Dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 5,35 persen dan terendah di Kabupaten Karo sebesar 3,98 persen. Pemerintah juga telah melakukan pemantauan ke sejumlah pasar untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga,” katanya.

Untuk menjaga laju inflasi, Pemprov Sumut telah menjalankan strategi pengendalian melalui program 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Selain itu, Pemprov Sumut juga memperkuat kerja sama antardaerah guna menjaga pasokan komoditas strategis, termasuk cabai merah yang selama ini menjadi salah satu penyumbang inflasi.

"Kami telah menjalin kerja sama dengan Kabupaten Karo untuk menjaga pasokan cabai merah. Ke depan, kolaborasi serupa akan diperluas pada komoditas strategis lainnya agar stabilitas harga tetap terjaga,” pungkas Poppy. (R/ Ed Jb)

 
tutup Iklan
tutup Iklan